<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jul 12, 2007
Tingkatan Cinta Di Hati



Seorang ahli ibadah berkata :

" jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda disisi Alloh, maka lihatlah di mana posisi Alloh di hati anda ! "

 SEJAUH MANA TINGKATAN CINTA DIHATI KITA...

Menurut Imam al Ghazali, ada empat tingkatan kualitas cinta:

1. Ada orang yang hanya mencintai diri sendiri, cinta diri. Segala

ukuran kebaikan hanya diukur dengan kepentingan dirinya. Ini adalah

cinta yang paling rendah kualitasnya.

 
2.
Ada orang yang mencintai orang lain sepanjang orang itu membawa

keuntungan bagi dirinya. Jika keuntungan dari cinta itu sudah tidak

ada maka cintanyapun putus. Cinta tingkat ini adalah cinta pedagang,

cinta transaksional.

 
3.
Ada orang yang mencintai orang baik, meski ia tidak diuntungkan

sedikitpun dari orang yang dicintainya itu. Cinta tingkat ini sudah

termasuk cinta yang agung.

 
4.
Ada orang yang mencintai kebaikan murni terlepas dari siapapun

yang memiliki kebaikan itu. Cinta tingkat ini adalah yang tertinggi,

dan merekalah yang dapat mencintai Alloh.

 
Temans, sejauh mana tingkatan cinta dihati kita terhadap sang Kholik dan makhluknya...

Seorang ahli ibadah berkata :

" jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda disisi Alloh, maka lihatlah di mana posisi Alloh di hati anda ! "

 


Posted at 10:23 am by zhahirah
Make a comment  

Jun 27, 2006
Mandikan Aku Sekali Ini, Bunda .....

 Bunda, Mandikan Aku …Sekali Ini Saja …


Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. "Why not the best," katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.


Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang "selevel"; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.


Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, "Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?" Dengan sigap Rani menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!" Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. "Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.


Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "memahami" orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya "malaikat kecilku". Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.


Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. "Alif ingin Bunda mandikan," ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.


Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku!" kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.


Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency." Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.


Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. "Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif," ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, "Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?" Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. "Ini konsekuensi sebuah pilihan," lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.


Tiba-tiba Rani berlutut. "Aku ibunyaaa!" serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. "Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif.." Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.



Sumber : dari seorang sahabat take in: http://komunitashatinurani.blogspot.com



Posted at 10:34 am by zhahirah
Make a comment  

Jun 26, 2006
Se-InGaTkU ...

Se-Ingatku .....


apa yang menghubungkan kita
dengan masa lalu?
selain kenangan
yang belum sempat terhapus
tergores pada dinding waktu
(Ivandinita)

 

Widy suka lupa? Ah, itu sih sudah banyak yang tahu dan aku sendiri nggak tahu apa obatnya untuk penyakit satu ini.

Ya ampun. Kali ini aku lupa lagi bawa kacamataku.” Aku langsung terduduk lemas di sofa kantor.

Makanya kalo mau berangkat ke kantor tuh semuanya dipersiapin. Jangan terburu-buru.” Mba Wi tersenyum melihatku.

Aduh, aku sih lebih baik ketinggalan HP dibanding kacamata deh. Walau nggak enak juga sih kalo nggak bawa HP seharian. Rasanya terkucil dari dunia. Tapi tanpa kacamata, rasanya jauh lebih nggak enak. Aku nggak suka dengan debu, dan kacamata itu sangat baik membantuku terhindar dari debu jalanan yang bebas beterbangan. Belum lagi asap knalpot bis-bis maupun kendaraan lainnya. Uff.... mata rasanya pedih.

Aku sendiri heran. Kenapa benda itu selalu saja ketinggalan. Mungkin karena aku selalu sembarangan meletakkannya ketika sampai di rumah, sehingga aku kelupaan untuk mencarinya setiap mau keluar rumah.

Keluargaku juga sangat hapal dengan kebiasaanku satu ini. Biasanya Bapak atau Ibu suka mengingatkan aku sebelum berangkat.

Ingat dulu mba, ada yang ketinggalan nggak.” seru mereka.

Dan aku biasanya langsung mengecek kembali semua perlengkapanku. Tas, USB, kacamata, HP, dompet, jaket, kauskaki (aku juga suka salah ambil pasangan), dan organizer.

Tapi hari ini aku agak lambat bangun, sehingga aku terburu-buru. Di luar Bapak sudah meng-klakson mobil berkali-kali, membuatku tambah panik. Sarapan di rumah pun tak sempat, sampai akhirnya aku bawa ke dalam mobil. Biarlah aku masih bisa makan di jalan nanti. Dengan gerakan cepat kusambar apa saja yang aku ingat. Jaket dan tas di tempat tidur, kauskaki putih di lemari. Sekilas aku periksa tasku. USB, dompet, tempat kacamata (belakangan baru aku sadar nggak ada isinya), organizer, HP, semuanya lengkap. Aku segera berlari ke teras. Untungnya sepatu dekat pintu keluar sehingga bisa dengan cepat aku ambil. Aku salami tangan ibu dan nenek dan melesat masuk ke mobil.

Makanya jangan tidur terlalu malam. Jadinya telat bangunnya.” Ayahku kembali berpetuah mengingatkan.

Memang sih tadi malam aku keenakan nonton Bioskop TransTV, jadinya ketika adzan subuh berkumandang aku rada-rada males untuk bangun.

Wid, masih bisa melihat nggak? Lihat tanganku, ini angka berapa?” Mba Wi mengembangkan jari-jarinya membentuk huruf V, yang berarti angka dua.

Sepuluh!” jawabku seenaknya.

Wah, salah Wid. Tangan mba menunjukkan angka dua. Aduh, gawat ini. Kamu nggak bisa melihat ya Wid.” seru Mba Wi. Wajahnya menampakan rasa khawatir.

Ha...ha...ha.... Tenang Mba. Widy cuma bercanda kok.” Aku senang sekali ngerjain Mbaku satu ini. Wajah Mba Wi jadi memerah. ”Aduh ampun mba...ampun...Geli.” Aku tertawa kegelian ketika mba Wi mulai menggelitiki pinggangku.


***

saat berpapasan
detik-detik berbagi pandang

tak perlu terengah
menyibak lagi lembar sejarah

untuk kembali melangkah
untuk kembali berlawanan arah

jangan lagi menengok ke belakang!


Widy itu pengingat jalan yang baik. Kalo Nia sering kesasar kalo pergi sendirian. Padahal Nia sudah pernah melewati rute yang sama beberapa kali. Tapi tetep aja, di kali yang lain Nia kesasar lagi.” ujar Nia ketika itu. Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju Cilandak, Jakarta Selatan, ke tempat sponsor yang akan membantu promosi kegiatan kami saat itu.

Aku tersenyum. “Iya dong. Widy tea…. ” Seruku bercanda.

Tapi kamu kan pelupa juga Wid.” Balasnya nggak mau kalah. “Ha…ha…ha….Ingat nggak waktu kita mau berangkat presentasi ke PPIB kemarin. Kamu salah bawa proposal. Yang kamu masukan ke tasku malah proposal untuk Unilever. Untung saja Icut bisa kita kontak sehingga dia datang menyusul kita dengan membawa proposal yang benar.”

Uuh… Iya deh. Waktu itu habisnya dikau membuat daku panik say. Kamu kan sudah tahu kalo aku panik aku jadi lupa sesuatu.”


***


Aku juga heran. Bagaimana caranya agar bisa mengobati kebiasaan buruk satu ini. Terkadang aku jadi susah sendiri. Seperti halnya kacamata, HP ku juga sering ketinggalan. Seperti hari sabtu kemarin sehabis liqo. Aku nge-charge batrei HP yang memang tinggal satu digit di tempat murobbiku. Kuletakkan HP tersebut di atas TV, di ruangan yang sama tempat kami berkumpul. Aku sudah membuat warning sendiri di kepalaku, ini HP jangan sampai ketinggalan karena besoknya aku pasti butuh. Aku akan pergi ke walimahan teman satu SMAku, dan rencananya berangkat bareng-bareng dengan akhwat yang lain.

Sudah ya, minggu depan kita ketemu lagi. Jangan lupa dengan tugasnya. Minggu depan kita ujian hapalan kan. Tempatnya di rumahmu ya sus.” Ujar Umi sebelum kami pulang. “Oia, nggak ada yang ketinggalan kan?” kembali kata-kata keramat itu diucapkan.

Ah, rasanya sudah lengkap semua. Dengan PD aku langsung mengambil motor dan berjalan keluar dari pagar rumah Umi. Kali ini Nana yang nebeng dibelakang motor. Katanya sih dia ada janji dengan keluarganya mau pergi jam 1, sehingga dia ikut aku sampai Koperasi. Biar lebih keburu waktunya, gitu alasannya. Yah, aku sih oke-oke aja. Sepanjang perjalanan pun aku tidak kepikiran sama sekali akan HP tersebut. Baru ketika mau aku gunakan untuk mencari nomor telepon temanku, aku baru sadar bahwa HP ku telah tertinggal di rumah Umi.

*****

Astaghfirulloh. I am a deadmeat. Sambil menepuk dahiku sendiri, aku beristighfar. Kok bisa-bisanya aku lupa ambil tuh HP. Padahal aku sudah kuat-kuat mengingat agar jangan sampai kayak gini kejadiannya. Jam di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Ah, mana mungkin ke rumah murobbi jam segini. Pulang pergi bisa 2 jam. Aku jadi pusing sendiri. Mencoba mengingat-ingat nomor telepon siapa aja yang bisa kuhubungi. Kugaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Aduh. Tak satupun yang bisa kuingat. Irma…Imas…Tyas, lalu siapa lagi ya?

Kutelepon rumah murobbiku. Sayangnya beliau sedang pergi keluar. Imas belum pulang. Begitupun dengan Irma. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Waduh, pada kemana semua orang. Akhirnya aku titip pesan saja kepada keluarga murobbiku bahwa besok pagi widy mau ambil HP yang ketinggalan.

Masih diantara bimbang, aku berpikir kalo sampai jam 21.00 WIB nggak ada yang menghubungi aku, mungkin lebih baik nggak usah pergi aja. Aku paling males pergi ke acara walimahan tapi sendirian. Bete. Susah juga nggak ada HP. Saat-saat penting seperti ini aku malah kelupaan bawa HP. Uff...widy...widy. Kamu tuh nggak kapok-kapok juga. Yang susah jadinya kamu sendiri bukan. Feeling ku mengatakan kalau malam ini sampai besok pagi pasti ada yang mengontak aku.

*****


Kamu kemana aja ma, dari tadi sore aku kontak kamu kok nggak bisa-bisa?”
Tanpa ba-bi-bu terlebih dahulu, langsung kusemprot irma yang akhirnya bisa kuhubungi.

Aduh afwan wid. Maklum selebriri. Banyak yang nyari. Banyak acara kita.”
Celoteh Irma dengan logat betawinya yang kental..

Besok jadi nggak sih ke nikahannya fakhri ?”
Ya jadi dong neng. Masa nggak jadi. Besok pan makan-makan kita. Anak pejabat kayak dia pasti makanannya enak-enak dan aneh-aneh.”
Ya udah. Jam berapa? Kita bakal naik apa kesana ?”
Katanya sih Tyas mau bawa mobil, tapi lagi ngelobi bokapnya. Pokoknya tunggu aja di Trebor, depan Volvo, Pasar Minggu. Tau kan tempatnya?”
Kalo Volvo widy tau. Tapi Trebor nggak. Tapi gampanglah nanti. Patokannya apa?”
Nanti didepan Volvo ada toko kayu, bahan bangunan gitu, disampingnya ada gang. Tunggu aja disitu. Jam 9. Jangan telat. Soalnya Pak SBY dan JK katanya mau datang. Bisa kena macet kita kalo mereka lewat. Ok?”

Uff... kira-kira bapak mau nggak ya nganter ke rumah Umi dulu baru ke Volvo? Rutenya itu tidak searah, sehingga harus memutar lagi melewati Pasar Minggu yang macet. Pikiranku terus melayang-layang. Aku tidak dapat tidur, padahal aku harus bangun pagi-pagi esok hari. Aku belum sempat bilang ke bapak malam ini karena ia sudah tertidur.

Ah sudahlah. Kalo memang nggak mau ya terpaksa naik angkot sekali sampai ke volvo. Makanya, jangan lupa atuh neng. Huuu.....

****

Assamu'alaykum.”
S
apa Bang Herman dari balik pintu.
Eh, ada Widy. Loh Wid, nggak pake kacamata lagi hari ini?”
Ketinggalan ya?”
Bang Her langsung menebak dengan jitu.
Bisa lihat nggak? Lihat jariku menunjukkan angka berapa?”

Yah... mulai lagi dengan pertanyaan yang sama hari ini. Aku cuma bisa berdehem saja melihat Mba Wi senyum-senyum dari balik kaca ruangannya. Ku

jangan pernah berani memadamkan
tari debu yang sedang kita ciptakan!

di bawah kaki-kaki kita
berbaur bersama bayang
yang dilekatkan oleh cahaya
matahari sepanjang jalan
hingga petang

(Ivandinita)

*****




Posted at 01:24 pm by zhahirah
Make a comment  

Jun 16, 2006
CINTA LAKI-LAKI BIASA

 

 

CINTA LAKI-LAKI BIASA


      MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

      "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

      Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

      Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

      Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

      "Kamu pasti bercanda!"

      Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

      Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

      "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

      "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

      Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

      "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

      Nania terkesima.

      "Kenapa?"

      Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

      Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

      Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

      Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

      "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

      Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

      "Tapi kenapa?"

      Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

      Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

      "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

      Cukup!

      Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

      Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

      Mereka akhirnya menikah.

      ***

      Setahun pernikahan.

      Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

      Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

      "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

      Ada! suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

      Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

      "Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"

      "Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"

      "Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

      Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

      Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

      Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

      Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

      Rafli juga pintar!

      Tidak sepintarmu, Nania.

      Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.

      Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

      Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

      "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

      Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

      Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

      "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.

      "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."

      Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.

      "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

      Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

      Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

      Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.

      Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

      Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, r umah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

      Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

      Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

      Cantik ya? dan kaya!

      Tak imbang!

      Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

      Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

      ***

      Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

      "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"

      Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

      Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

      Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

      "Baru pembukaan satu."

      "Belum ada perubahan, Bu."

      "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

      "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit." 

      Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

      Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

      "Masih pembukaan dua, Pak!"

      Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

      "Bang?"

      Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

      "Dokter?"

      "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

      Mungkin?

      Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa ti dak dari tadi kalau begitu?

      Bagaimana jika terlambat?

      Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

      Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

      Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

      Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

      "Pendarahan hebat."

      Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwa rna merah.

      Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

      Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

      Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

      Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

      Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

      ***

      Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

      Mama, Papa, dan ketiga saudara Na nia terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

      Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

      Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Qur'an kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

      Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

      "Nania, bangun, Cinta?"

      Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

      Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

      "Nania, bangun, Cinta?"

      Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

      Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

      Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

      Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

      Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa.

      Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

      Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

      Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

      Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

      Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

      "Baik banget suaminya!"

      "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"

      "Nania beruntung!"

      "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."

      "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

      Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

      Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

      Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya.

      Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.


Posted at 02:10 am by zhahirah
Comment (1)  

Jun 14, 2006
JOKE

 

Berikut ini iklan yang dikutip dari zaman Belanda untuk Warga Indonesia :

------------------------------------
*PENGOEMOEMAN !!!
 
DAG INLANDER,.....HAJOO URANG MELAJOE,...KOWE MAHU
KERDJA??? GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE
OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI
PERKEBOENAN-PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN
GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE
 
DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET:
1. Kowe poenja tangan koeat dan beroerat
2. Kowe poenja njali gede
3. Kowe poenja moeka kasar
4. Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie
5. Kowe boekan kerabat dekat pemberontak-pemberontak ataoepoen
maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel.
6. Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean
tanah ataoe baron eropah.
7. Kowe maoe bekerdja radjin dan netjes.
 
KOWE INLANDER PERLOE DATANG KE RAWA SENAJAN DISANA
KOWE HAROES DIPILIH LIWAT DJOERI-DJOERI JANG BERTOEGAS :
1. Keliling rawa Senajan 3 kali
2. Angkat badan liwat 30 kali
3. Angkat peroet liwat 30 kali
 
Kowe mesti ketemoe Mevrouw Shanti, Meneer Tomo en Meneer Atmadjaja Kowe
nanti akan didjadikan tjentenk
oentoek di Toba, Buleleng, Borneo, Tanamera, Batam, Soerabaja, Batavia en
Riaoeeiland.
 
Governement Nederlandsch Indie memberi oepah :
1. Makan 3 kali perhari dengan beras poetih dari Bangil
2. Istirahat siang 1 uur.
3.Oepah dipotong padjak Governement 40 percent oentoek wang djago.
 
Haastig kalaoe kowe mahoe..
 
Pertanggal 31 Maart 1889
Niet Laat te Zijn Hoor..
Batavia 1889
Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal
H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij*
 
 
Iklan ini benar-benar asli kutipan dari koran bertahun 1889 diambil di
perpustakaan nasional.

Cheers, Wink


Posted at 02:53 pm by zhahirah
Make a comment  

LIFT

Mo nulis apa ya?

Oia…di gedung kantorku ini sering banget orang terjebak di dalam lift.

Bukan sekali atau dua kali, tapi udah sering banget, bahkan sejak aku belum ada di kantor ini.

Kemarin aja ada lagi yang terjebak di lift. Ada sekitar 7 orang, terdiri dari ibu-ibu dan 1 orang pria. Sebenarnya aku samar-samar denger ada yang ribut-ribut diluar, tapi ga kepikiran sama sekali kalau itu adalah orang yang kejebak di lift.


Baru ketahuan ketika OB (Office Boy, red) kantor, Bang Her masuk ke kantor langsung menuju ruangan Mba Wiwi. bagian keuangan di kantor. Bang Her nyari-nyari obeng. Ketahuan deh buat apa tuh obeng. Obeng itu untuk nyongkel pintu lift yang macet tersebut. Di ruangan Mba Wiwi memang terdapat peralatan kantor yang cukup lengkap. Mulai dari perlengkapan kantor yang kecil-kecil kayak pensil, penghapus, pulpen, gunting, isolasi, kertas-kertas, amplop, bahkan obeng juga ada. Seharusnya sih benda kayak obeng lebih cocok di taruh di bagian IT yang sering banget pake tuh benda. Biasa deh….obeng penting untuk membedah komputer-komputer disini. Jangan heran dengan kondisi komputer kantor yang penampilannya ga seindah ketika pertama kali dipakai. Eit…tapi jangan salah. Untuk kompie ku, aku sangat melarang mereka untuk melucuti ke’indahannya’…(hehe…berlebihan ga seh klo dibilang indah?).


Kembali ke urusan lift. Setelah mendengar kalau ada (lagi) yang terjebak di lift, segera aja, aku dan mba wiwi keluar untuk melihat keadaan mereka. Ternyata diluar sudah banyak orang yang berkumpul, diantaranya satpam, beberapa karyawan BPPT, dan orang-orang yang terjebak di dalam lift itu. Rupanya mereka sudah berhasil dikeluarkan dari lift yang macet tersebut. Suasana tampak riuh karena semuanya tertawa. Bukannya stress or panik karena terjebak selama beberapa menit di sana, malah mereka menganggap lucu kejadian tersebut. Yah, nampaknya karena sudah sering kejadian, mereka nampak santai saja.


Aku jadi malez pakai lift. Apalagi lift barang. Itu lift yang sudah sangat famous suka macet. Lift itu biasa dipakai karyawan seperti office boy untuk ngangkut barang-barang. Ukurannya emang lebih luas dibanding dengan lift utama, tapi kondisinya ‘suram & menyeramkan’ buat aku. Bila diperhatikan kondisi dalam lift barang tersebut, lapisan catnya banyak yang sudah mengelupas, warnanya kusam, lantainya juga tidak semulus lift utama. Kalo bahasa betawinya, ‘bocel-bocel’. Kebayang kan kenapa aku bilang suram dan seram. Sedangkan lift utama itu berkapasitas lebih kecil, tapi dingin dan harum.


Ada 4 lift utama, yang sayangnya dua diantaranya juga berpotensi dan bereputasi kurang baik. Lift 1 dan 3 katanya juga suka macet. Duh….gini deh sengsaranya nyewa kantor di gedung pemerintah. Banyak fasilitas gedung yang kondisinya sudah sangat tua sehingga perlu diperbaiki. Malah seharusnya di rehab aja yang banyak, total gitu, biar ga rusak-rusak melulu. Apalagi lift kan urgent banget, terutama buat yang kantornya berada di lantai atas. Masih beruntung lokasi kantor kami di lantai 1 (bukan lantai dasar loh), so untuk ke kantor kami ga keberatan menggunakan tangga, lagian lebih cepat. Tapi bulan juni nanti kantor pindah ke lantai 17. Huaa…..sedihhh….Berarti kan harus menggunakan lift. Yee…..ga mesti sih, tapi kan cape kalee klo harus pake tangga.


“Bener mba kita mo pindah ke lantai 17 bulan juni nanti?” Tanyaku pada mba Eka, bosnya Marktech ini. “Iya bener. Sekarang mba lagi mikirin kapan waktu pindahan yang enak untuk ngangkut semua barang ini.” Aku ngerti kenapa mba bilang gitu. Kondisi kantor lagi repot, sibuk. Laporan proyek harus segera diselesaikan untuk bulan ini.


“Yang dilantai 17 itu lebih enak wid suasananya. Lebih segar, lebih luas, harga sewanya pun sama kok dengan yang di lantai satu ini. Cuma memang yang mba khawatirkan soal liftnya, takutnya kejadian kayak mba dulu.”


“Loh..memangnya kenapa mba, mba pernah ngalamin kejadian apa?”


“Iya dulu mba pernah pulang malam, kira-kira jam 9. Ada pertemuan di lantai 21, lantai paling atas dari gedung ini. Mba sendirian pulang dari pertemuan itu. Lift utama sudah tidak bisa digunakan bila sudah diatas jam 8 malam, sehingga terpaksa mba naik lift barang itu. Perasaan mba udah ga enak aja saat itu. Tapi mba mencoba menepis semua perasaan was-was itu. Ah, cuma perasaan saja. Jangan berpikir yang macam-macam. Mba tekan tombol lantai 1. Pintu lift menutup. Nggak lama lift mulai bergerak turun, tapi baru sampai lantai 17 liftnya berhenti. Pintu lift pun terbuka. Loh, kok baru sampai lantai 17 liftnya berhenti? Mba tekan lagi tombol lantai 1. Pintu menutup, dan lift mulai bergerak. Tapi kali ini lebih aneh lagi. Lift malah bergerak keatas. Kalian tahu? Liftnya berhenti di lantai 21. Waduh, tengkuk mba sudah bergidik saat itu. Tanpa pikir panjang, mba lari keluar lift menuju tangga darurat. Mba copot selop 5 cm yang ada di kaki, lansung turun ke lantai G. Huah….kebayang kan mba olahraga malam-malam turun 22 lantai, gara-gara lift yang macet dan bikin deg-degan.”


“Hua..ha….ha…ha……..” Kontan kami semua yang mendengar tertawa tertawa terbahak-bahak. Mba Eka pun tertawa, sama gelinya dengan kami.


Yah, pokoknya soal lift jangan keburu dipikir serem dulu deh. Ntar kalo kejadian, bisa gawat. Lebih baik tetap berpikir positif. Sejauh ini aku tidak pernah terjebak macet didalam lift itu sih. Uh…jangan sampe deh. Bling.

Cheers, Wink


Posted at 02:46 pm by zhahirah
Make a comment  

BANG SAMI YUSUF

Widy lagi ngefans berat sama Bang Sami Yusuf, waduhh... Hehe....

Awalnya yang ngenalin (deu... kesannya ketemu sama orangnya) pertama kali itu temen satu kantorku, mba Wiwi.

Wid ada lagu bagus tuh di internet, coba buka deh.” Mba Wiwi tiba-tiba datang menghampiri mejaku. ”Aku barusan aja buka di komputerku.

Oia...? Lagunya siapa mba?. ”

Lagunya Sami Yusuf. Tapi, awas, jangan sampai jatuh cintrong sama penyanyinya...” Mba Wi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Apa sih, ngomong seperti itu malah bikin penasaran orang aja.

Iseng aku ketik link webnya di komputerku...... ”www.sami yusuf.com”. Hmm... sekilas namanya mengingatkan ku pada Yusuf Islam, mualaf dari Inggris itu. Loading beberapa menit. Muncul sebuah foto close up di layar komputer. Wajah seorang pria. Kesan pertama kali, “Ah...biasa aja.” Aku sering lihat tipikal wajah itu di TV, wajah pria bule arab (itu kesan ku pertama kali). Aku baca biografinya, Oh.. orang keturunan Aljazair toh.

Sejam kemudian, mba Wiwi balik lagi. ”So, what do you think wid? Ganteng kan?. Ah ga ah mba. Biasa aja. Lebih ganteng Nabi Yusuf. Baca deh di buku Istri-Istri Para Nabi. Disitu kan tertulis kalo Allah SWT memberi kecantikan pada 2 orang, Sarah, istri Nabi Ibrahim as, and Nabi Yusuf. So, pasti ga ada orang yang bener-bener seganteng nabi Yusuf apalagi bikin widy jatuh cintrong. Hehe……” It was already pictured in my mind that no one could ever be as good looking as Nabi Yusuf. Hi..hi…kayak yang udah pernah lihat Nabi yusuf aja.

Huu…ya udah. Coba denger lagunya aja deh. Lagu-lagunya enak loh. Ada tuh di multiplynya elfaqiha. Tapi downloadnya lama banget.”

Yaah...aku males mba klo prosesnya lama. Memang yang lain ga ada yang punya?”. Mm... mungkin anak-anak IT dah ada yang download tuh lagu. Coba kamu tanya aja ke mereka sehabis makan siang. Aku mau sholat dulu. Kamu ga makan siang wid?”

Makan siang? Kulirik jam kantor yang ada tepat didepanku. Jarum jamnya menunjukkan pukul 12.00 WIB. Waduh, sudah waktunya makan siang nih. Ntar keburu makanannya habis. Cepat-cepat aku ambil kupon makan dan tissue yang ada di meja. Setengah berteriak ”Mba Wi, aku makan ke atas dulu ya.” Terburu-buru berjalan keluar kantor. Kebanyakan karyawan kantor di BPPT yang ikutan kupon, makan siang jam 11.30 WIB. So, jam 12 an itu menunya sudah berkurang dan pasti tinggal sisa-sisanya aja.

Setengah jam kemudian aku sudah kembali ke kantor. Sehabis bertempur dengan makan siang, aku kembali ke kantor untuk sholat. Kehkehkeh...ketauan deh lebih mendahulukan makannya dibanding sholat. Yah... maaf, abis kalo sholat dulu ntar ga khusyu lagi coz perut dah bernyanyi ria. Malu lagi klo sampe kedengeran orang.

Sehabis sholat masih ada waktu untuk browsing internet. Buka –buka email, chatting, dan browsing lagi webnya bang Sami. Aku teringat untuk mendownload lagunya, segera aku beranjak ke ruangan IT. Ternyata semuanya sudah kumpul. Mas Gim, Mas Ade, Iqbal, Mas Juned, Mas Mulia, tapi aku belum melihat managerku, Pak Kiki. Aku lihat Iqbal sedang sibuk membaca email, segera aku hampiri dia. Biasanya dia rajin download lagu-lagu di internet.

Bal, ente punya lagunya Bang sami yusuf ga?” Ia cuma menoleh sebentar kemudian kembali menatap layar komputernya. ”Ada, tapi toblerone dulu 3.” Huh...dia selalu seperti itu. ”Serius nih. Punya ga? Kalo ga ada jangan sok minta-minta toblerone deh.”

Ya ada lah. Tapi ga mau ane kasih sebelum dibayar dengan toblerone 3.” Sambil senyum simpul ia terkekeh.

Yee....pelit banget sih.” Aku merengut. Heran sama orang satu ini. Pamrihan banget. Pasti deh kalo aku yang minta tolong sesuatu, dia minta sogokan dulu. Dan permintaannya selalu sama. Toblerone 3!

Ya iqbal, masa minta copy lagu doang pake harus dituker dengan toblerone, 3 lagi. Ga sebanding tau! Udah deh, cepet di share dong filenya.” Cetus aku galak.

Hehehe.....hare gene minta yang gretongan? Ga la yaw. Udah deh, kalo sepakat dengan penawaran ane, toblerone 3, maka ane pasti share file-filenya. Nanti ane kasih bonus, permen 1.” Uff....ikhwan satu ini bikin orang keki aja. Melihat wajahnya yang tersenyum puas bikin aku tambah sebel. Aku lihat Mas ade dan Mas Juned tersenyum-senyum. ”Maksudnya apa sih? Mereka satu komplotan ya?” Pikir ku curiga.

Tau ah. Minta sama yang lain aja.” Aku berpaling menuju meja Mas Ade. ”Mas Ade, kenapa senyum-senyum sendiri? Obatnya lupa diminum ya?” Ledekku. ”Mas, punya file lagunya Bang Sami Yusuf ga? Share ke widy dong. Pliiiis” Dengan wajah memelas aku mengatupkan kedua tanganku di depan dada. Mudah-mudahan dengan gaya seperti ini ia akan kasihan padaku.

Silver Quin dulu 3. Hehehe......” Gubrak!

Rasanya emang pengen beneran jatuh seperti di komik-komik Jepang itu.

Ada apa dengan orang-orang ini, sudah ketularan Iqbal semua apa? Mau marah ga bisa, akhirnya cuma bisa mesem-mesem. Gagal deh. Akhirnya aku kembali ke ruanganku. Baru sebentar duduk, Mas Gim datang menghampiri.

Wid, mau cari apa sih tadi?”

Mas Gim punya koleksi lagu-lagunya Sami Yusuf nggak? Kata Mba Wi bagus, jadi Widy mau denger.”

Oh... ada kok. Sini, biar saya yang buka.” Wah, senangnya. Untung masih ada yang baik hati di kantor ini. Aku segera beranjak dari kursiku, mempersilahkan Mas Gim yang segera duduk dan mencarikan filenya di komputer. Tidak sampai 5 menit folder lagu tersebut sudah didapat. Aku sendiri lupa untuk memperhatikan tadi linknya mana saja. Tapi sepertinya tadi lewat My Network Places, trus ke filenya Mas Gim.

Setelah mengucapkan terima kasih beberapa kali kepada Mas Gim yang kemudian langsung pergi keluar, aku langsung menarik kursi dan duduk manis di depan kompie. Ku copy semua file sami yusuf yang ada difolder tersebut. Tidak hanya itu, File lagunya Zain Bikha, Michael Jackson, dan Yusuf Islam juga aku copy.

Lagu pertama yang aku dengar adalah Meditationnya Sami Yusuf, dilanjutkan dengan Supplication dan Ya Mustafa. Wah, enak juga lagunya. Mirip-mirip lagu India (he...loh?), Lagu terus berputar, sampai ke lagu Al Muallim. Waa....h seru juga nih lagu. Beda. Semakin didengar semakin enak dan liriknya juga bagus. Ah, jadi kepengen lihat orangnya lagi. Aku buka lagi websitenya Bang Sami. Wah, ternyata masih muda (ya iyalah, kan keliatan kali dari facenya), umurnya baru 26 tahun, beda 2 tahun dong. Cling...cling....kereen....

Sekarang tiap masuk kantor aku langsung puter lagunya Bang Sami di Winamp. Ya, tentunya setelah sholat subuh...eh...duha maksudnya. Ga mungkin lah sholat subuh jam 7.30. Itu sih kebangetan namanya.

Nggak puas rasanya cuma bisa denger winampnya, aku berusaha cari kaset or CD nya di toko-toko kaset di Depok. Muter-muter kok nggak dapet ya? Curiga. Jangan-jangan kasetnya belum nyampe Indonesia lagi, atau jangan-jangan di Depok aja yang belum nyampe kasetnya ? Huu...payah sekali kalo gitu. Kebetulan keesokan harinya di kantor, lewat YM aku ketemu temen satu kampus dulu, yang sekarang melanjutkan studi di Austria. Bang Rizal namanya. Darinya aku juga dapet info kalo Sami Yusuf ini juga sangat tenar di Eropa, dan baru aja launching album terbarunya di 4 negara (ga tau negara mana aja). Katanya kalo mau beli CD aslinya mahal, kira-kira Rp 200.000 an. Alamak.....mahal banget. Bang Riz bilang itu karena albumnya masih baru, tunggu aja kalo sudah dateng di Indonesia nanti juga turun harganya. Dia aja dapet lewat download gratis dari internet. Yeee.... itu sih sama aja kayak aku.

Ya udah deh, aku pikir sekarang aku harus cukup puas dengan mendengarkan lagunya lewat kompie. Sapa tau...hehe....kapan-kapan bisa denger dari orangnya langsung. Live gitu maksudnya! ;)


Posted at 12:59 am by zhahirah
Comment (1)  

May 29, 2006
SINAR CAHAYA AYAT KURSI


SINAR CAHAYA AYAT KURSI

Dlm sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yg duduk diatas pintu rumah. Tugasnya ialah utk menanam keraguan di hati suami terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan dihati isteri terhadap kejujuran suami di luar rumah. Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah sehinggalah Baginda mendengar jawaban salam daripada isterinya. Disaat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan salam itu.
 

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

 
1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi apabila berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua orang malaikat memeliharanya hingga subuh.
 
 
2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di
akhir setiap sembahyang Fardhu, dia akan berada dlm lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.
 
3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di
akhir tiap sembahyang,tidak menegah akan dia daripada masuk syurga kecuali maut dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT memelihara akan dia ke atas rumahnya, rumah jirannya dan ahli rumah-rumah disekitarnya.
 
4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di
akhir tiap2 sembahyang fardhu, Allah SWT
menganugerahkan dia setiap hati orang yg bersyukur,setiap perbuatan orang yg benar,pahala nabi2 serta Allah melimpahkan padanya rahmat.

 
5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi
sebelum keluar rumahnya, maka Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya - mereka semua memohon keampunan dan mendoakan baginya.
 
6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di
akhir sembahyang Allah SWT akan mengendalikan
pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

 
7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi
ketika dalam kesempitan nescaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.
 

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda,Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."



Posted at 10:29 am by zhahirah
Make a comment  

ALERGI

                                                         



      Duh, BT nih. Ga tau kenapa pagi ini maleeeezzzz banget berangkat ke kantor. Mungkin karena masih kena alergi . Sudah 4 hari alergi ku ga hilang-hilang. Membaca Koran hari minggu kemarin, katanya nama alergiku urtikaria (mudah-mudahan ga salah sebut). Itu sejenis alergi karena cuaca dingin or panas. Menurut Koran kompas, alergiku bisa kambuh berat kayak gini karena pengaruh beratnya pekerjaan. Ditambah karena pulangnya selalu kena hujan and banjir, jadinya membuat alergi lama sembuhnya. Walaupun aku sudah disuntik, teteup aja  alerginya ga hilang. Bentol-bentol merah di tangan, kaki, and badan, bikin bawaannya pengen garuk melulu. Tapi kan malu.

 

      Hari senin kemarin kantorku diliburkan karena ada demo buruh nasional. Bosku khawatir rusuh and ga bisa pulang karena ga da kendaraan. Jalur yang dilalui kan pas depan kantor, so pasti bikin ngeri kalo sampai terjadi rusuh. Wajar aja, demo buruh minggu sebelumnya aja sampai membuat kami ngeri karena para pendemo merusak tanaman penghias jalanan. Pot-pot dicabut, halte dirusak, rambu-rambu juga dicabut, bahkan tiang bendera Jepang yang dipasang pas di depan kantor BSM juga dicabut and benderanya diambil. Nah, gimana pas kemarin senin yang notabene hari buruh internasional, I mei. Hii…ngeri! Tapi alhamdulillah, karena antisipasi dari pemerintah Jakarta sangat baik, demo berlangsung damai. Aku baca di Koran Polisi sampai mengerahkan 21.000 personel polisi, dan ada perintah tembak di tempat kalo sampai terjadi tindakan anarkis dari para pendemo.

 

      Jam di kantor sekarang menunjukkan pukul 08.15 am, WIB. Baru ada 4 orang aja dikantor. Oia, nanti siang temanku Yuni mau dateng kekantor, mau ambil jarum bekam pesenannya. Kemarin sempat ke Bogor. Ke kampus beli obat alergi, tapi malah tertukar dengan obat lain. Obat yang dimasukkan ke plastik itu harganya jauh lebih mahal disbanding dengan yang kupesan, mau dikembalikan dah terlanjur sampai rumah. Apa kubeli saja ya obatnya, toh salah satu khasiatnya juga mengobati alergi kok. Tapi itu berarti aku ngutang dong? Ya udah deh ga papa, demi kesembuhan. Ntar aku telepon orangnya.


Posted at 03:54 am by zhahirah
Make a comment  

May 28, 2006
PERJALANAN MENUJU KESEMPURNAAN



Dalam sebuah perjalanan hidup, cita-cita terbesar adalah

menuju kesempurnaan. Ada kalanya kita mesti berjuang, serta belajar menyikapi segala rahasia dalam kehidupan.

 

Perjalanan menuju kesempurnaan adalah proses yang menentukan

setiap tapak langkah kita. Setiap hembusan nafas, detak

jantung, dari siang menuju malam. Semua menuju titik yang

sama, kesempurnaan.

 

Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu. Tidak ada

seorangpun melebihi dari yang lain. Namun tak jarang setiap

kita berbeda dalam mensikapinya. Ada yang berjuang untuk

melewatinya dengan membunuh waktu. Tidak pula sedikit yang

merasakan sempitnya kesempatan yang ia punya.

 

Apa rahasia terbesar dalam hidup ini? Melewati hari ini

dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan iman.

Dengan cinta hidup menjadi indah. Dengan ilmu hidup menjadi

mudah. Dan dengan iman hidup menjadi terarah.

 


Posted at 07:02 pm by zhahirah
Make a comment  

Next Page